Take a fresh look at your lifestyle.

Telan Anggaran Rp 28 Miliar, Proyek Bay Park di Samping Polda Babel Molor

Fasilitas Anak hingga WC Disorot, Kualitas Pekerjaan Proyek Bay Park Rp 28 Miliar Dipertanyakan

0 20

PANGKALPINANGPOST.COM, PANGKALPINANG — Proyek Revitalisasi Situ Konservasi di kawasan Taman Bay Park, Pangkalpinang, yang menelan anggaran APBN sebesar Rp 28,19 miliar hingga kini belum sepenuhnya rampung, meski masa kontrak pekerjaan telah berakhir. Kondisi tersebut memunculkan sorotan publik terhadap mutu pekerjaan sekaligus efektivitas pengawasan teknis oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Kamis (5/2/2026)

Proyek yang berada tepat di samping Markas Polda Kepulauan Bangka Belitung, kawasan Perkantoran Pemerintah Provinsi Babel itu dikerjakan oleh PT Graha Anugerah Lestari (GAL) berdasarkan Kontrak Nomor HK.02.03/01/KONST/BWS/23.6.2/2025 tertanggal 15 Agustus 2025, dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender.

Namun, berdasarkan pantauan langsung media di lapangan pada awal Februari 2026, sejumlah item pekerjaan masih terlihat belum selesai. Beberapa fasilitas utama seperti stadion mini, taman, jalan conblock, hingga perapian area kolong situ masih dalam proses pengerjaan. Alat berat ekskavator mini tampak masih beroperasi untuk merapikan gundukan tanah di sekitar kawasan taman.

Tak hanya persoalan keterlambatan, kualitas hasil pekerjaan juga menuai perhatian serius. Di area kolong Situ Bay Park, terlihat sisa-sisa material bangunan berserakan, yang dinilai mencerminkan ketidaktertiban pelaksanaan proyek dan berpotensi mengganggu fungsi konservasi kawasan.

Pada bagian dinding pintu air sisi barat, hasil pengecoran beton tampak belum dirapikan secara maksimal. Besi tulangan masih terlihat jelas di beberapa titik, bahkan ditemukan lubang pada struktur beton. Kondisi ini secara teknis dinilai tidak memenuhi standar penyelesaian konstruksi, terutama untuk bangunan yang berkaitan dengan fungsi pengendalian air.

Kondisi lebih memprihatinkan terlihat pada fasilitas permainan anak yang baru dipasang. Beberapa wahana permainan dilaporkan sudah mengalami kerusakan, seperti bengkok dan patah. Material besi yang digunakan terlihat tipis, sehingga menimbulkan pertanyaan serius terkait spesifikasi bahan yang diterapkan dalam proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.

Hal serupa juga terlihat pada halte berwarna biru di dekat lapangan hijau dan lapangan futsal. Struktur halte dinilai menggunakan material ringan dan tipis, yang menimbulkan keraguan terhadap daya tahannya dalam jangka panjang, khususnya jika digunakan secara intens oleh masyarakat.

Sementara itu, pada bangunan WC umum, pekerjaan finishing juga belum sepenuhnya rapi. Dinding bangunan masih memperlihatkan bekas papan cor yang menempel, meski sudah dicat. Padahal, secara teknis, proses perapian struktur seharusnya diselesaikan terlebih dahulu sebelum tahap finishing dilakukan.

Salah seorang pekerja di lokasi proyek mengakui bahwa pelaksanaan pekerjaan terkendala faktor cuaca. Menurutnya, curah hujan tinggi yang terjadi pada Desember lalu menyebabkan area proyek tergenang banjir, sehingga menghambat proses pengerjaan.

“Waktu pekerjaan ditambah 50 hari kerja. Sekarang sudah lewat sekitar sebulan. Insyaallah pertengahan Februari selesai,” ujar pekerja tersebut yang enggan disebutkan namanya.

Dikonfirmasi terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Yuda membenarkan adanya keterlambatan penyelesaian proyek. Ia menyebut kondisi cuaca menjadi faktor utama molornya pekerjaan.

“Keterlambatan terjadi karena kondisi hujan. Dalam kondisi seperti ini, pihak perusahaan tetap dikenakan denda keterlambatan dan saat ini sudah masuk tahap pemeliharaan,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2026).

Yuda juga mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan yang perlu diperbaiki, termasuk hasil pengecoran beton yang masih memperlihatkan besi tulangan serta beberapa bagian bangunan yang dinilai belum rapi.

Meski demikian, berbagai temuan di lapangan menimbulkan pertanyaan lanjutan mengenai sejauh mana pengawasan PPK dan PPTK berjalan efektif sejak awal proyek. Mulai dari pengendalian mutu material, tahapan pekerjaan, hingga kesesuaian hasil akhir dengan spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak.

Proyek revitalisasi Bay Park yang sedianya bertujuan memperkuat fungsi konservasi sekaligus menyediakan ruang publik yang aman dan nyaman bagi masyarakat, kini justru menyisakan kekhawatiran. Keterlambatan yang berlarut, kualitas pekerjaan yang dipersoalkan, serta lemahnya kontrol berpotensi menjadikan proyek APBN ini rawan pemborosan dan tidak berumur panjang, sebuah risiko yang pada akhirnya harus ditanggung publik.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor PT Graha Anugerah Lestari masih terus diupayakan untuk dikonfirmasi. (Sumber: Berita 5, Editor: Pangkalpinangpost.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.